sweetcow

Posts Tagged ‘jalan-jalan’

Bapak tua tak berlengan…

In Cerita si sapi on Desember 15, 2009 at 8:16 am

Aku sedang makan malam bersama dengan seorang teman di daera Bekasi Barat selepas pulang kantor. Saat kami datang tampak warung tenda itu tak begitu ramai, yang tampak hanya dua orang orang laki-laki yang sedang menikmati makan malamnya. Kamipun masuk dan memesan nasi goreng, yang kata temanku ”Enak tenan rek”, dan dua gelas minuman.

Tak selang berapa lama, pesanan kami datang dan kamipun mulai makan. Saat sedang asik makan disambi dengan mengobrol, datang seorang bapak tua kira-kira berusia 55 tahun, dengan baju berwarna coklat yang tampak sudah usang. Aku dan temanku terdiam sejenak saat tahu bahwa bapak tua itu tidak berlengan, cukup membuat kami syok melihat bapak tua itu. Tak tega rasanya untuk melihatnya berlama-lama, karena rasa iba sudah menjalar diseluruh tubuhku. Bapak yang sudah tua itu tampak lelah sekali. Dengan tampak wajah yang letih, memesan minum dan makanan.

Terasa miris sekali melihat si Bapak, dia minum dengan sebuah mangkok karena memang dia tak bisa memegang gelas. Tak bisa kubayangkan bagaimana dia akan makan nanti. Akhirnya nasi goreng yang dipesan sudah siap tersedia untuk disantapnya. Tampak si bapak tua makan tanpa sendok, beliau makan langsung dari piring, dan sedok hanya dipakai untuk mengumpulkan kembali nasi yang berantakan.

HEBAT, kata itulah yang cocok disampaikan untuk bapak tua itu. Tanpa memiliki dua tangan, dia tetap bisa berjuang untuk mengurus dirinya sendiri tanpa harus merepotkan orang lain.

SALUT, orang yang hidup dengan kekurangan seperti itu masih bisa tetap bertahan, bahkan untuk tetap bekerja demi keluarga dan anak-anaknya.
Tak bisa lagi kuucapkan rasa kagum aku atas kemandirian lelaki tua itu.
Hanya doa yang bisa panjatkan semoga berkat-Nya selalu melimpah atas diri bapak tua itu.

Sebuah fenomena kehidupan di Ibukota yang sangat ironis, membuat hati nuraniku terusik dan berempati dengan keadaan tersebut, sehingga membuatku makin bersyukur atas apa yang sudah Tuhan berikan kepadaku.

Sundak melambai…

In catatan si sapi on Desember 14, 2009 at 4:52 pm

Aku lahir disalah satu wilayah pinggiran propinsi Yogyakarta. Kabupaten Gunung Kidul, tepatnya di Wonosari yang merupakan ibukota kabuten tersebut. Kota kecil yang saat ini mulai dipadati oleh penduduk.

Gunung Kidul selalu identik dengan kekeringan, tidak bisa disangkal memang, beberapa daerah di kabupaten ini sering mengalami kekeringan pada musin kemarau, terutama didaerah-daerah pesisir pantai. Kebetulan aku tinggal di daerah ibukota kabupaten jadi masalah ini tidak begitu aku rasakan, bahkan hampir tidak pernah aku rasakan mungkin. Dirumah selalu tersedia air yang cukup bagi kami sekeluarga untuk mandi, masak, mencuci dan minum. Meskipun hanya air sumur tanah, tapi kami tidak pernah berkekurangan.

Dibalik itu semua di daerah tempat kelahiranku ini juga tersimpan begitu banyak kekayaan, salah satunya adalah pemandangan pantai. Jajaran pantai membentang dari timur kebarat. Jajaran pantai ini sering disebut Pantai Selatan. Baron, Kukup, Krakal, Sundak, Panjang, Sadeng dan masih banyak lagi pantai-pantai yang menyajikan keindahannya dengan batu-batu karangnya dan ombaknya yang selalu bergemuruh.

Pantai Sundak contohnya, pantai dengan hamparan pasir putih ini begitu indah, tak kalah dengan pemandangan di Pantai Kuta, Bali. Pantai yang berjarak kurang lebih 30 km dari tempat tinggalku ini merupakan salah satu pantai yang sering dikunjungi oleh para wisatawan selain pantai Baron tentunya.

Selain untuk berekreasi disana juga disediakan semacam pendopo yang bisa digunakan untuk melakukan berbagai kegiatan seperti rekoleksi alam, atau kegiatan alam lainnya. Aku senang setiap kali aku datang kepantai ini. Jadi seperti anak kecil berlari-lari dipasir dan bermain dengan ombak. Sesuatu yang sulit aku lakukan ditempat tinggalku sekarang ini.

Berjalan dipantai dengan bertelanjang kaki sangat menyenangkan rasanya. Buih-buih ombak menggelitik kaki dan membersihkan sisa-sisa pasir yang menempel dikakiku. Suara-suara burung yang beterbangan kian kemari, suara angin yang bertiup membuatku seakan melayang dalam indahnya pesona pantai ini. Saat melihat pantai ini dari atas (ada sebuah bangunan terbuka yang bisa digunakan untuk duduk-duduk dan berteduh) aku bisa melihat ikan-ikan dibawah air yang jernih sedang menari-nari. Melihat karang yang tinggi dan kokoh tak bergeming saat sang ombak menghempasnya. Dan pantai yang tenang dengan pasirnya yang putih serta kerang-kerang yang indah yang terhampar di sepanjang pantai ini. Langit biru dan udara pantai yang terasa segar, jauh dari polusi.

Pesona dari keagungan Sang Maha Pencipta. Sesuatu yang merupakan kebanggan dari daerah kelahiranku, yang harus tetap dilestarikan demi anak dan cucu kita.

Aku selalu rindu untuk berjalan dipasir itu…